Kadang ga pake diundang masalah datang. Seolah-olah dia emang demen banget jadi sahabatku.
Adakalanya karena begitu banyaknya masalah yang aku hadapi, teman-teman berkata agar aku koreksi diri. Mungkin saja masalah itu terjadi karena kesalahanku sendiri.” hmmm… bisa jadi” gumamku.
Dari kecil aku adalah seorang wanita yang paling gengsi untuk menangis. Karena Papiku tidak suka aku jadi anak cengeng. Namun ada kalanya saking sedihnya akupun menangis dan biasanya aku jongkok disamping mobil yang terparkir diGarage rumah, atau dibelakang rumah deket gudang, atau juga ditingkat rumah dalam sebuah loteng yang aku tata sendiri.
Setelah puas menangis, aku pasti buru-buru usap airmataku agar tak seorangpun yang tau bahwa aku menangis. Lalu aku kembali bermain-main dengan teman-teman atau adik-adikku.
Sore itu aku ngotot ingin makan mie Pangsit yang sangat enak di ujung jalan rumahku. Bersama Tante Tetty, aku yang saat itu berusia 9 tahun riang sekali berjalan menyelusuri jalan raya. Ga peduli kendaraan padat. Sambil berdendang aku menyebrang, tiba-tiba ” Brakkk..!” Sesuatu menabrakku dan dengan manis aku terjerambab di jalan aspal. Ternyata becak dari arah kanan yang menabrakku. Melihat sikut dan lututku berdarah tante Tetty yang mantan preman langsung menarik leher baju Tukang becak itu. Tapi aku malah tertawa…dan berkata :” ga apa-apa tante, aku ga sakit kog (padahal..mintaaaaa ampuunnnn sakitnya).” Aku minta tante melepaskan tukang becak itu. Lagipula memang aku yang salah nyebrang ga liat-liat. Aku tidak menangis bukan karena aku mati rasa dan tidak bisa merasakan sakit, tetapi karena aku takut disebut anak cengeng. Nanti Papi malu kalo anaknya cengeng.
SMP juga aku ga berani nangis padahal ketika itu aku hampir diculik sama seorang wanita cantik yang tadinya aku pikir dia benar-benar tulus menyayangiku sebagai gambaran keponakannya yang menurut dia jauh diLuar Negeri sana. hampir tiap hari dia menjemputku kesekolah dengan Mazdanya. Hingga suatu ketika… ia ingin menculikku karena ternyata dia seorang wanita lesbian yang menyukai aku padahal aku masih belia dan aku cewek normal lho ( Fian, Oki, David and ma frenss… lu orang pada taukan gue paling selera sama cowok ganteng..he he..).
Dan Ketika SMU lagi-lagi aku yang selalu bertingkah gagah perkasa…( arif dan bijaksana..huahahaha….), kembali harus menahan agar airmataku tidak turun membasahi pipi dan bumi (puitis banget sech..?!). Waktu itu dengan riang gembira semangat kemerdekaan.. aku yang tetap imut-imut sekalipun udah kelas 2 SMU ( he he… kata orang2 lho aku imut..he he..), nungguin metro mini mau kesekolah. Sekolahku tercinta TRINITAS Bojong Indah. Eehh… karena waktu itu mau ujian kenaikkan kelas, aku ga peduli metro penuh aku naik aja. Lagian emang udah biasa kog bergelantungan dipintu bus bersama si Deddy, Teddy dan Eddy (itu nama kog bisa rada mirip geto ya?! Eeh… lu orang masih pada idup ga? Gue ne Egi alias Elsa Gila kata lu pada-pada…. tapi lu orang pada Cares ama gue..thx ya…. gue sedih Hendrik udah meninggal gara-gara batu alias keras kepala….. doyan kog nyimeng…hhhh…). Pagi itu lagi-lagi aku ga berani nangis padahal kakiku udah remuk kegiles ban metromini ( aku jatuh karena didalam anak-anak STM berantem, aku terdorong dan tergiles ban metromini).
Apapun yang terjadi, apapun hal-hal ga asyik yang aku alami, aku tidak pernah menangis. Karena aku tidak mau papiku malu punya anak cengeng. Hingga suatu ketika…….. aku menangis saat… Papi pergi meninggalkan kami… ( Papi, aku masih inget semua ajaran papi. Inget roti kesukaan papi. Bahkan masih inget wangi parfum papi yang dari aku SD ga berubah… Thx 4 all ya. .. Papi adalah guruku yang hebat selain TUHAN ) Aku kembali menangis pada tanggal 6 September 1998, setahun setelah papi pergi. Pagi itu adalah hari ulangtahun Papi. Udah jadi tradisi keluargaku pada hari ulangtahun anggota keluarga… siapa yang tidak berulangtahun harus bangun lebih pagi dari yang berulangtahun. Berkumpul diruang tamu dan masing2 udah pada pegang kado. Lalu papi akan memainkan piano dengan lagu ultah dan satu orang membangunkan yang ultah. Dan jika papi yang ultah akulah yang main piano. Pagi itu aku main piano menyanyikan Happy Birthday to you… aku nanti-nanti papi tidak keluar kamar. Hingga mami katakan ” Papi sudah ultah disurga sayang!” aku menjerit. Menangis. Teriak. Dan bilang : ” Tuhaaannn…. kenapa KAU ambil papiku?!”
Dan aku kembali menangis ketika Adikku Hotriapun (Naomi, sedangkan Henny uda lama banget mendahului mereka ) meninggalkan dunia ini, juga saat mami menyusul mereka. Aku yang semakin dewasa… justru jadi cengeng. Dan aku juga menangis ketika aku menerima DIA sebagai TUHAN dan JURUSELAMAT bagi hidupku. Airmata menjadi bagian dari hidupku. Sejak papi pergi… tetapi ketika aku menemukan “PAPI” yang baru yaitu TUHAN diatas segala tuhan, airmataku berubah menjadi ucapan syukur. Aku ingat satu hal…. orang yang aku sayangi dan yang menyayangi aku selalu katakan… ” Honey,… kamu kuat! Kamu pasti bisa mengatasi segala kesulitan hidup…Karena kamu adalah sayangku, kamu adalah Rajawali….dan Rajawali akan semakin mengepakkan sayapnya ketika badai menerpa dia…. Semakin terbang tinggi dan badai takkan bisa menghalangi jalan yang dia lalui…” Dan, thanks GOD orang itu kini menjadi suamiku.
Tuhan…, ALLAHku MAHA BESAR…, Papi, Mami, Henny, Naomi Hotria…, kakak2ku, abangku, Coki dan Junita, sahabat2 yang mengasihiku…dan kamu Rinaldi, aku tidak akan kalah dengan masalah dan kesulitan di dunia ini…. aku akan terbang, terbang dan terbang …kembangkan sayapku… karena NAMAku adalah RAJAWALINYA TUHAN…!